idkripid - Pada tanggal 30 Oktober 2025, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI.JK) terus menunjukkan ketahanan di tengah tekanan pasar regional. Harga sahamnya bergerak stabil di kisaran Rp4.550–Rp4.600 per lembar, melanjutkan tren kenaikan yang dimulai sejak pertengahan Oktober setelah sempat menyentuh level terendah di sekitar Rp4.000. Pergerakan ini menandakan kembalinya optimisme investor terhadap bank pelat merah terbesar di Indonesia di tengah kondisi makroekonomi yang masih berfluktuasi.
Sepanjang bulan Oktober, performa saham Bank Mandiri memperlihatkan pemulihan bertahap setelah tekanan di awal bulan. Dari posisi Rp4.050 pada 17 Oktober, saham BMRI melonjak lebih dari +12% hanya dalam satu minggu dan ditutup di sekitar Rp4.550 pada 24 Oktober berdasarkan data Investing.com. Kenaikan tersebut terjadi seiring meningkatnya minat beli institusional saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencoba bangkit dari koreksi kuartalan. Meski volatilitas pasar masih tinggi, stabilitas BMRI memperlihatkan daya tarik defensifnya di antara saham-saham BUMN keuangan.
Pergerakan Saham BMRI – Oktober 2025
Saham BMRI naik stabil sepanjang akhir Oktober, ditutup di sekitar Rp4.550 berkat kepercayaan investor yang pulih.
Analis menilai penguatan saham BMRI didorong oleh valuasi yang menarik, ekspektasi laba yang stabil, serta spekulasi terkait pembagian dividen pada awal 2026. Dengan rasio price to earnings (P/E) sekitar 7,8× dan forward P/E 7,1×, saham Bank Mandiri masih dinilai undervalued dibandingkan dengan pesaingnya seperti BCA dan BNI. Bagi investor jangka panjang, valuasi ini mencerminkan peluang masuk yang solid, terlebih di tengah dukungan kuat dari permintaan domestik dan program pembiayaan pemerintah.
Secara teknikal, level Rp4.000 menjadi area support kuat setelah diuji beberapa kali selama September dan Oktober. Kenaikan di atas Rp4.500 disertai dengan peningkatan volume transaksi yang menunjukkan keyakinan investor. Jika BMRI mampu menembus dan bertahan di atas Rp4.600, potensi kenaikan menuju Rp4.800 hingga Rp5.000 terbuka lebar. Namun, apabila gagal mempertahankan posisi di atas Rp4.400, konsolidasi ulang kemungkinan terjadi, terutama jika sentimen global kembali melemah.
Dari sisi fundamental, Bank Mandiri terus menunjukkan kinerja solid di segmen kredit ritel, korporasi, dan digital. Margin laba bersih masih terjaga di atas 35%, sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL) turun dari 1,7% menjadi 1,5% secara tahunan. Volume transaksi digital juga melonjak lebih dari 25% sejak kuartal pertama 2025, mencerminkan keberhasilan strategi digitalisasi yang menyasar segmen muda dan pelaku UMKM.
Meski demikian, beberapa risiko tetap membayangi. Kenaikan imbal hasil global, potensi volatilitas rupiah, serta kekhawatiran terhadap utang rumah tangga bisa menekan valuasi sektor perbankan. Bank Indonesia juga diperkirakan masih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga, sehingga pertumbuhan kredit kemungkinan berjalan moderat hingga akhir 2025. Namun, proyek infrastruktur dan transisi energi yang digalakkan pemerintah bisa menjadi katalis positif bagi portofolio pembiayaan Mandiri.
Arus dana asing menunjukkan sinyal stabil. Walau sebagian pelaku jangka pendek melakukan profit-taking setelah lonjakan cepat, investor institusional jangka panjang justru tercatat kembali melakukan net buy sejak pertengahan Oktober. Laporan dari Samuel Sekuritas menunjukkan kepemilikan asing di BMRI mulai pulih setelah beberapa bulan mengalami tekanan jual, menandakan meningkatnya kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Dari sisi proyeksi kinerja, analis memperkirakan laba bersih Bank Mandiri pada 2025 akan tumbuh 10–12% dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor pendorong utama adalah ekspansi kredit, efisiensi biaya, serta penurunan beban pencadangan. Proyeksi ini sejalan dengan target internal bank yang berfokus pada pembiayaan ritel, adopsi digital, dan proyek green financing yang berorientasi ESG.
Dividen juga menjadi daya tarik tersendiri. Secara historis, BMRI mempertahankan rasio pembagian dividen 40–60%, menjadikannya salah satu saham berdividen terbaik di sektor keuangan. Jika laba bersih tumbuh sesuai ekspektasi, peluang peningkatan dividen tahun depan terbuka, memperkuat daya tarik saham ini bagi investor jangka menengah.
Dari sisi teknikal lanjutan, indikator moving average 20 dan 50 hari mulai membentuk pola golden cross, pertanda awal potensi tren naik baru. Relative Strength Index (RSI) berada di level netral sekitar 55, menunjukkan ruang kenaikan masih tersedia sebelum kondisi jenuh beli terjadi. Volume perdagangan juga tetap tinggi, menandakan akumulasi berkelanjutan dari investor institusional.
Secara makro, kinerja BMRI akan sangat bergantung pada arah kebijakan moneter dan stabilitas rupiah menjelang akhir tahun. Apabila inflasi terkendali dan neraca perdagangan tetap positif, tren penguatan saham Mandiri bisa berlanjut hingga awal 2026. Namun, ketidakpastian geopolitik global masih menjadi variabel yang perlu diwaspadai oleh pelaku pasar.
Secara keseluruhan, performa saham Bank Mandiri sepanjang Oktober memperkuat posisinya sebagai saham unggulan (blue-chip) Indonesia yang stabil dan bernilai. Kombinasi fundamental kuat, prospek pertumbuhan positif, serta dukungan kebijakan pemerintah menjadikan BMRI kandidat utama untuk mempertahankan tren kenaikannya di kuartal IV 2025.
Sumber:

Komentar
Posting Komentar